Indonesia Tempati Posisi Paling Bawah Peringkat Ketahanan Covid Bloomberg, Kok Bisa?


Indonesia Tempati Posisi Paling Bawah Peringkat Ketahanan Covid <i>Bloomberg,</i> Kok Bisa?

lndonesia.org - Pandemi Covid-19 ibarat petir di siang bolong bagi banyak negara di dunia, karena membawa kejutan yang luar biasa pada banyak aspek kehidupan.

Pandemi Covid-19 juga membawa tantangan tersendiri, bukan hanya dalam penanganan virus, tapi juga bagaimana setiap negara mampu bangkit dan pulih pasca pandemi. Pasalnya, melakukan pemulihan pasca pandemi Covid-19 tidaklah semudah membalik telapak tangan.

Setidaknya itu yang tercermin dalam Covid Resilience Ranking atau Peringkat Ketahanan Covid yang dirilis Bloomberg pekan ini (Rabu, 28/7).

Untuk diketahui, Peringkat Ketahanan Covid adalah gambaran mengenai di negara mana saja virus corona ditangani paling efektif dengan gangguan sosial dan ekonomi paling sedikit di setiap negara. Ada 53 negara yang diurutkan berdasarkan ketahanan mereka terhadap pandemi Covid-19, sesuai indikator yang dibuat oleh Bloomberg.

Dalam menentukan peringkat itu, Bloomberg menggunakan 12 indikator data, di antaranya adalah penahanan Covid, kualitas layanan kesehatan, cakupan vaksinasi, kematian secara keseluruhan, dan kemajuan menuju dimulainya kembali perjalanan serta mengurangi pembatasan pergerakan.

Peringkat Ketahanan Covid Bloomberg ini memberikan gambaran tentang bagaimana pandemi terjadi di 53 ekonomi utama saat ini.

"Dengan lebih berputar ke arah keterbukaan dan kebangkitan perjalanan global, kami juga memberikan gambaran tentang bagaimana nasib ekonomi ini dapat berubah di masa depan ketika tempat-tempat keluar dari pandemi dengan kecepatan yang berbeda," begitu kutipan laporan Bloomberg.
Pemulihan Lebih Sulit Daripada Penanganan

Dalam daftar tersebut, Norwegia berada di posisi nomor satu karena dianggap unggul dalam sejumlah indikator yang digunakan, seperti melakukan vaksinasi dengan baik yang mencakup hampir setengah populasinya, jumlah kematian baru rendah serta melonggarkan pembatasan.

Menyusul di bawahnya adalah Swiss dan Selandia Baru dengan penilaian indikator yang serupa.

"Untuk peringat nomor satu bulan ini, Norwegia. Kehidupan semakin dekat dengan masa pra-pandemi. Alkohol dapat disajikan lewat tengah malam dan sebanyak 7.000 orang dapat menghadiri acara di luar ruangan," begitu kutipan laporan tersebut, terkait dengan penilaian atas Norwegia.

Meski begitu, laporan yang sama menekankan bahwa varian delta masih mengintai dan menjadi ancaman di Norwegia. Sekitar 58 persen dari kasus Covid-19 yang dikonfirmasi bulan ini di Norwegia adalah varian Delta.

Selain Norwegia, masih merujuk pada peringkat yang sama, sejumlah negara Eropa lainnya juga tidak mau ketinggalan. Banyak dari mereka yang tidak kalah unggul dalam mengadopsi entri bebas karantina untuk pelancong yang diinokulasi. Menurut indikator "Rute Perjalanan yang Divaksinasi" Bloomberg, Rumania, Finlandia dan Norwegia, dan Swiss adalah yang negara paling "terhubung" ke dunia di tengah pandemi ini.

Indikator "Rute Perjalanan yang Divaksinasi" dibuat dari database yang dikelola oleh penyedia data perjalanan Sherpa dan mencerminkan kebebasan bergerak bagi orang yang disuntik vaksin Covid-19 di seluruh dunia.
Bukan Hanya Eropa Yang Unggul

Selain negara-negara Eropa, sejumlah negara lain seperti Mesir dan Meksiko juga mendapat skor tinggi pada indikator "Rute Perjalanan yang Divaksinasi" Bloomberg. Pasalnya, dua negara itu tetap membuka perbatasan negaranya untuk tujuan ekonomi selama pandemi. Meskipun pelancong dari negara-negara ini mungkin dilarang masuk ke tempat lain karena kasus Covid-19 yang melonjak dan tingkat vaksinasi yang rendah.

Sementara itu, dalam peringkat yang sama, China mendapatkan skor baik dalam indikator "Kapasitas Penerbangan". Hal itu karena angka-angka yang diberikan oleh spesialis data penerbangan OAG yang menunjukkan bahwa meski China menutup penerbangan internasional, namun penerbangan domestik masih bisa berjalan dengan baik.

Sayangnya, kondisi sebaliknya dihadapi oleh negara-negara yang bergantung pada penerbangan internasional seperti Hong Kong dan Singapura, yang tidak memiliki pasar perjalanan udara domestik. Keduanya mendapat skor terburuk dalam indikator "Kapasitas Penerbangan".

Untuk diketahui, indikator "Kapasitas Penerbangan" dibuat dengan cara menghitung jumlah kursi pesawat dalam empat minggu terakhir dibandingkan periode yang sama pada 2019.
Di Mana Posisi Indonesia?

Pertanyaan selanjutnya yang menarik adalah, lalu bagaimana dengan posisi Indonesia?

Dalam peringkat tersebut, Indonesia agaknya harus mengelus dada, karena berada di posisi paling bawah yakni posisi 53 atau dianggap kurang unggul dalam semua indikator penilaian versi Bloomberg.

"Lebih dari 1.300 orang sekarang meninggal setiap hari dan pasokan suntikan (vaksin) tidak memenuhi kebutuhan populasi yang besar," begitu kutipan dari laporan Bloomberg tersebut.

Kondisi ini menunjukkan betapa kuatnya kesenjangan antara yang kaya dan miskin, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di sejumlah negara lainnya.

"Ini adalah kebingungan yang dihadapi oleh tempat-tempat berperingkat rendah lainnya seperti Malaysia, Filipina, dan Bangladesh, memperkuat kesenjangan kaya-miskin dalam peringkat yang sejajar dengan apa yang oleh kepala Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus disebut sebagai 'kegagalan moral bencana' dalam akses vaksin," sambung laporan yang sama.
Pekerjaan Rumah Ke Depan

Peringkat Ketahanan Covid Bloomberg telah mengkristalkan beberapa pelajaran tentang cara terbaik menangani pandemi. Ada banyak hal yang agaknya bisa menjadi "PR" atau pekerjaan rumah yang perlu dilakukan oleh banyak negara, tidak kecuali Indonesia.

Dalam laporan yang samma, Bloomberg menekankan bahwa kunci utama dari pemulihan ekonomi negara pasca pandemi adalah tingkat kepercayaan dan kepatuhan masyarakat yang tinggi.

Ambil contoh Selandia Baru. Negara ini berhasil menekankan komunikasi sejak awal pandemi kepada masyarakatnya, dengan sistem peringatan empat tingkat yang memberi orang gambaran yang jelas tentang bagaimana dan mengapa pemerintah akan bertindak ketika wabah berkembang.

Selain kepercayaan, investasi dalam infrastruktur kesehatan masyarakat juga penting dalam upaya peulihan ekonomi. Sebelum pandemi sistem untuk pelacakan kontak, pengujian yang efektif, dan pendidikan kesehatan banyak diremehkan di banyak negara di dunia. Namun pasca pandemi, terbukti bahwa sistem semacam ini memiliki dampak yang luar biasa, karena membantu mensosialisasikan cuci tangan dan pemakaian masker wajah yang efektif.

"Ini adalah kunci untuk menghindari penguncian yang melumpuhkan secara ekonomi di tahun pertama, sebelum vaksin tersedia," kutip laporan Bloomberg.

Kondisi ini bukan hanya dialami negara miskin, tapi juga negara kaya. Ambil contoh Amerika Serikat. Kegagalan mereka untuk memeriksa virus corona meninggalkan bekas luka yang dalam, dengan lebih dari 600 ribu orang meninggal akibat Covid-19 di negeri Paman Sam pada masa awal pandmei. [rmol]

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.