Belasan Pembunuh Presiden Haiti Jovenel Moise Sempat Terobos Kedubes Taiwan


Belasan Pembunuh Presiden Haiti Jovenel Moise Sempat Terobos Kedubes Taiwan

lndonesia.org - 11 pria bersenjata yang diyakini terlibat dalam pembunuhan Presiden Haiti Jovenel Moise memaksa masuk ke kedutaan besar Taiwan pada Kamis.

Kedutaan Taiwan di Port-au-Prince telah ditutup sejak pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada Rabu. Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Taiwan Joanne Ou mengatakan pada Kamis pagi, tim keamanan kedutaan menemukan sekelompok pria bersenjata telah melanggar batas keamanan fasilitas, menurut laporan Taiwan News, 9 Juli 2021.

Sekelompok pria berhasil melewati pos satpam dan memasuki halaman kedutaan. Personel keamanan kedubes segera memberi tahu polisi Haiti.

Staf kedutaan menyetujui permintaan dari pemerintah Haiti untuk mengerahkan polisi ke dalam kompleks untuk melakukan pencarian terhadap para tersangka. Polisi melancarkan operasi pada pukul 4 sore dan menangkap 11 tersangka, menurut Joanne Ou.

Kedutaan besar mengalami beberapa kerusakan kecil selama penerobosan, termasuk jendela pecah. Namun, Joanne Ou menjelaskan bahwa tidak ada anggota staf di kedutaan pada saat itu.

Kepolisian Nasional Haiti sejak itu menahan orang-orang itu untuk diinterogasi. Saat ini tidak jelas mengapa orang-orang itu menargetkan kedubes Taiwan.

Kementerian Luar Negeri Taiwan pada Jumat mengeluarkan peringatan perjalanan red notice kepada warga negara Taiwan yang berencana pergi ke Haiti menyusul pembunuhan Jovenel Moise.

Haiti 24 merilis gambar lima tersangka yang ditangkap di kedubes Taiwab. Di antaranya adalah James Solages Haiti-Amerika berusia 35 tahun, salah satu dari dua warga negara Amerika yang diyakini terlibat dalam pembunuhan itu.

Pihak berwenang Haiti mengatakan para pembunuh Presiden Jovenel Moise adalah unit komando bersenjata lengkap yang terdiri dari 26 orang Kolombia dan dua orang Haiti-Amerika.

Dilaporkan Reuters, Menteri Pertahanan Kolombia Diego Molano mengatakan temuan awal menunjukkan bahwa warga Kolombia yang diduga terlibat dalam pembunuhan presiden Haiti adalah pensiunan anggota angkatan bersenjata negaranya, dan berjanji untuk mendukung penyelidikan di Haiti.

Polisi melacak tersangka pembunuh pada Rabu ke sebuah rumah di dekat tempat penembakan presiden di Petionville, pinggiran utara perbukitan ibu kota, Port-au-Prince.

Kepala Polisi Haiti Leon Charles mengarak 17 pria di depan wartawan pada konferensi pers Kamis malam, menunjukkan sejumlah paspor Kolombia, ditambah senapan serbu, parang, walkie-talkie dan perkakas termasuk pemotong baut dan palu.

Jovenel Moise, 53 tahun, ditembak mati pada Rabu pagi di rumahnya oleh apa yang dikatakan para pejabat Haiti sebagai sekelompok pembunuh asing terlatih, yang membuat negara termiskin di Amerika itu semakin bergejolak di tengah perpecahan politik, kelaparan, dan kekerasan geng yang meluas. [tempo]

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.