Catatan Lieus Sungkharisma: Matinya (Suara) Intelektual


Catatan Lieus Sungkharisma: Matinya (Suara) Intelektual


Oleh:Lieus Sungkharisma
  SAYA tak pernah menyangka di Indonesia demokrasi yang dulunya tumbuh begitu bagus setelah reformasi, kini rasanya meredup. Praktis sedikit sekali orang yang menyuarakan kebenaran. Sampai suaranya kalah sama clamitannya para buzzer.

Saking masifnya dengungan buzzer, seolah-olah tampak benar dan menutupi kebenaran itu sendiri. Dan pendapat intelektual akan tampak salah dan bodoh. Para intelektual yang berani bersuara akan dibantai habis sampai tak berkutik oleh para buzzer.

Fenomena matinya suara intelektualitas ini mengkhawatirkan.

Entah karena takut diserang para buzzer atau dikebiri oleh penguasa, atau entah karena sudah pasrah. Tentunya kondisi seperti sekarang ini tidak sehat untuk sebuah negara demokrasi.

Coba Anda bayangkan, soal para pegawai KPK yang dihabisi dengan isu Taliban dan tidak Pancasilais yang dilontarkan pertama kali oleh buzzer. Betapa jahatnya para buzzer mampu menggiring opini tersebut dan kita semua mendiamkan, dan akhirnya para orang awam membenarkan fitnah buzzer tersebut.

Sampai, orang-orang yang bekerja mati-matian memberantas korupsi akhirnya harus tersingkir dengan stigma buruk dari tempatnya bekerja.

Pembuat fitnah bisa melenggang bebas dan berkoar-koar terus. Apakah kondisi seperti ini yang kita inginkan di Indonesia?

Untuk itu, saya sowan ke PKS ingin belajar dan berbagi kecemasan tentang kondisi demokrasi Indonesia.

Saya percaya di Indonesia masih banyak orang baik yang mampu melihat permasalahan bangsa ini dengan sikap yang adil. Salah satunya di PKS yang banyak kadernya intelektual, lulusan luar negeri dan dalam negeri yang pintar-pintar.

Saya berharap PKS bisa menyuaran suara kebenaran sehingga yang benar memang benar, yang salah tampak salah. Tidak seperti sekarang ini. Yang salah dibenarkan sehingga tampak benar, dan yang benar disalahkan sehingga tampak salah.

Mudah-mudahan setelah ini, muncul para suara pembela kebenaran dari seluruh pelosok negeri yang mampu membungkam suara buzzer yang sudah sangat keterlaluan, bukan lagi sebuah kritik yang membangun.

Dan, saya yakin PKS bersama partai lain bisa menjadi pembawa suara kebenaran walau sekecil apa pun. Semoga fenomena matinya (suara) para intelektual segera berakhir. 

(Aktivis dan Tokoh Tionghoa)

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.