Benci K-Pop, Kim Jong-un Targetkan Fans BTS dalam Tindakan Brutalnya


Benci K-Pop, Kim Jong-un Targetkan Fans BTS dalam Tindakan Brutalnya

lndonesia.org - Kim Jong-un , diktator muda Korea Utara (Korut), dilaporkan telah menyatakan perang terhadap K-pop. Dia secara khusus akan menargetkan para fans atau penggemar BTS, boy band Korea Selatan, yang berada di Korea Utara dalam tindakan brutalnya.

Pemimpin berusia 37 tahun itu telah mempermasalahkan musik pop Korea atau K-pop yang menular—yang memadukan gaya musik Eropa dengan lirik Korea.

Kim sebelumnya telah menyatakan gaya musik seperti itu sebagai "kanker ganas" dan mengatakan itu berisiko merusak orang-orang Korea Utara—yang hidup di bawah kendali totaliternya.

Rezim Kim Jong-un sekarang akan menindak gaya musik seperti itu dan para penggemarnya di Korea Utara. Alasannya, itu menjadi ancaman serius bagi sosialisme Korea Utara.

"Dokumen yang bocor dari pemerintah Korea Utara menunjukkan Kim menjalankan kampanye anti-K-Pop melawan apa yang dia sebut 'kanker ganas' dari grup pop Korea Selatan," tulis TMZ dalam laporannya mengutip dokumen pemerintah Korea Utara.

"Dokumen-dokumen, yang dirinci di New York Times, mencabik K-pop karena menyebarkan sentimen 'anti-sosialis' dan merusak 'pakaian, gaya rambut, ucapan, perilaku' kaum muda," lanjut laporan tersebut yang dilansir Sabtu (12/6/2021).

Laporan itu mengisyaratkan bahwa ada kekhawatiran tentang betapa brutalnya balas dendam Kim Jong-un terhadap gaya musik, dan mereka yang menikmatinya, akan berlanjut.

"Bagian yang menakutkan adalah sulit untuk mengatakan seberapa jauh Kim akan pergi untuk membendung apa yang dia lihat sebagai invasi budaya dari Korea Selatan dan boy band-nya," sambung laporan tersebut.

"Sementara BTS dan grup K-pop lainnya melemparkan hits menular seperti Dynamite...Kim Jong-un memiliki bahan peledak yang sebenarnya," imbuh laporan TMZ.

Ancaman terbaru terhadap K-Pop datang tiga bulan setelah Kim Jong-un membuat ancaman terselubung terhadap dunia hiburan.

Pada bulan Maret, sebuah situs propaganda Korea Utara menggambarkan seniman terikat pada kontrak yang sangat tidak adil sejak usia dini, ditahan di pelatihan mereka dan diperlakukan sebagai budak setelah tubuh, pikiran, dan jiwa mereka dirampok oleh kepala seni konglomerat yang kejam dan korup.

Keith Howard, pakar tentang Korea Utara dari London's School of Oriental and African Studies, mengatakan kepada CNN: "Tidak ada bukti bahwa orang membuat musik mereka sendiri di luar apa yang diizinkan secara terpusat."

"Satu-satunya perusahaan rekaman adalah milik negara, dan tidak ada pertunjukan yang diizinkan di luar apa yang diizinkan," katanya.

"Anda bahkan tidak memiliki hak untuk membuat kata-kata baru (untuk lagu yang sudah ada), dan jika Anda melakukannya, Anda harus sangat berhati-hati, karena jika dianggap tidak pantas, Anda akan mendapat masalah." []

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.