Ngabalin-Hehamahua Saling Tunjuk 'Teroris' Gegara Analogi Buatan TP3


Ngabalin-Hehamahua Saling Tunjuk 'Teroris' Gegara Analogi Buatan TP3


lndonesia.org - Saling balas argumen terjadi antara Ali Mochtar Ngabalin dan Abdullah Hehamahua usai persoalan analogi pertemuan antara TP3 dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) seperti Nabi Musa menghadap Firaun. 

Ngabalin disebut lebih 'teroris' setelah lebih dulu menyebut Abdullah 'teroris'.

Dirangkum detikcom, Sabtu (17/4/2021), analogi pertemuan dengan Jokowi seperti Musa bertemu Firaun awalnya disampaikan Hehamahua dalam channel YouTube Ustadz Demokrasi seperti dilihat, Rabu (14/4). Abdullah Hehamahua awalnya menceritakan momen dihubungi Istana pada 9 Maret lalu. Istana memberitahukan kesediaan Presiden Jokowi bertemu dengan TP3.

Pertemuan TP3 dan Jokowi pun akhirnya berlangsung. Abdullah Hehamahua menyebut pertemuan itu seperti Musa mendatangi Firaun.

"Singkatnya, besoknya kami datang, kami sepakat bahwa kita datang seperti Musa datang kepada Firaun," ujar Abdullah Hehamahua.

Ungkapan ini pun lantas disanggah oleh Ngabalin yang tidak terima dengan analogi yang disampaikan Abdullah. Ngabalin lantas menyinggung Abdullah bagaikan teroris.

"Kalau Musa AS setelah dewasa merantau ke Madyan, setelah 10 tahun dia kembali ke Mesir dan dengan mukjizat sebagai seorang nabi. Nah, kawan ini lari ke Malaysia, Hehamahua ini lari ke Malaysia dan pulang menjadi sosok yang menyihir anak-anak muda menjadi radikal dan ekstrem. Itu makanya Abang tulis, dia pulang ke Malaysia--dalam tanda petik--sebagai teroris," kata Ngabalin, kepada wartawan, Jumat (16/4).

"Saya keberatan (pertemuan TP3 dengan Presiden Jokowi diibaratkan Musa mendatangi Firaun). Makanya sosok seperti Abdullah Hehamahua yang begitu dahsyat, dia tidak menunjukkan Islam yang rahmatan lil'alamin," imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Abdullah mengaku justru bersyukur dicap sebagai 'teroris'. Abdullah pun menilai justru Ngabalin lebih 'teroris' ketimbang dirinya.

"Saya 'teroris'? Itulah istilah yang diberikan oleh penjajah Belanda ke para pejuang Indonesia mulai Teuku Umar di Aceh sampai Pattimura di Maluku," kata Abdullah, yang merupakan Ketua Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) 6 laskar Front Pembela Islam (FPI), menanggapi komentar Ngabalin.(dtk)

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.