Prihatin Bom Makassar, Hendropriyono: Bertentangan dengan Kemanusiaan yang Beradab


Prihatin Bom Makassar, Hendropriyono: Bertentangan dengan Kemanusiaan yang Beradab


lndonesia.org - Jenderal TNI Prof Dr Abdullah Mahmud Hendropriyono menyikapi peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar pada Minggu (28/3/2021) kemarin.

Lewat akun Twitter pribadinya, ia mengaku simpati dan prihatin atas kejadian tersebut.

"Di tengah pandemi yang mencekam seluruh umat manusia di dunia, di tengah pengaruhnya terhadap ekonomi kita yang sangat berat, ternyata masih ada orang yang masih bermimpi mencapai sesuatu melalui tindakan teror yang biadab," ujar Hendropriyono menggunakan akun Twitter @edo751945  dikutip pada Senin (29/3/2021 ).

Kata dia, pelaku bom bunuh diri telah melanggar dua etika sekaligus, yaitu etika sosial karena mengorbankan orang-orang yang tak bersalah dan etika individu karena membunuh dirinya sendiri.

"Bagi pelanggar berat etika yang dimaksud, tidak ada tempat di negara bangsa Indonesia, yang sedang mengejar ketinggalan kita dari negara-negara lain yang sudah sadar dari mimpi, dengan mencapai kenyataan hidup sejahtera," katanya.

Dia berharap kaum muda harapan bangsa dapat lebih berbenah diri.

"Selamat berjuang kaum muda harapan bangsa Indonesia, untuk lebih cepat dan tepat dalam berbenah diri. Bersihkan penyakit kanker sosial yang ganas tersebut, agar RI dapat segera bangkit dari tidurnya yang sudah terlalu lama," kata dia.

Sebagaimana diketahui, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto meninjau lokasi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (28/3/2021). 

Jenderal Listyo Sigit menyebut dua pelaku bom bunuh diri yang tewas itu terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan. 

"Pelaku yang meninggal dunia ada 2 orang laki-laki dan perempuan," kata Listyo di Makassar didampingi Kapolda Sulsel Irjen Pol Merdisyam.  

Mantan Kabareskrim Polri ini mengungkapkan inisial pelaku berjenis kelamin laki-laki yakni L yang merupakan jaringan Jamaah Anshorut Daulah (JAD). Sementara untuk pelaku perempuan masih diidentifikasi. 

"Pelaku merupakan bagian dari kelompok JAD yang pernah melakukan pengeboman di Jolo, Filipina," ujar Sigit.[]

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.