Jika Kalah Pemilu, Donald Trump Mau Pindah Negara


Jika Kalah Pemilu, Donald Trump Mau Pindah Negara


lndonesia.org - Petahana calon Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa dia sangat mungkin akan meninggalkan AS jika kalah dalam pemilu presiden. Hal ini diungkapkan Donald Trump dengan nada bercanda, saat berkampanye di Georgia pada Oktober 2020 lalu.

Saat kampanye itu, Trump mengatakan kepada pendukungnya bahwa Biden adalah kandidat terburuk dalam sejarah pemilihan presiden. Trump juga mengatakan dia tak mungkin kalah dari Joe Biden.

"Dapatkah Anda bayangkan jika saya kalah, seumur hidup saya, apa yang akan saya lakukan? Saya akan mengatakan bahwa saya kalah dari kandidat terburuk dalam sejarah politik?" ujar Trump, seperti dilansir Independent, 17 Oktober 2020.

"Saya tidak akan merasa begitu baik, mungkin saya harus meninggalkan negara ini, saya tidak tahu," imbuhnya, dengan disambut gelak tawa dari para pendukungnya.

Di kesempatan lain, Trump telah berulang kali mengatakan menolak melakukan transfer kekuasaan secara damai, jika kalah dalam pemilu tahun ini.

Menurut Amandemen ke-20, apabila Trump kalah dalam pemilihan maka masa jabatannya akan berakhir pada siang hari pada 20 Januari 2021. Dia seharusnya menyerahkan secara resmi jabatan presiden kepada Biden, jika Biden resmi memenangkan pemilihan.

Secret Service atau Dinas Rahasia Amerika Serikat diduga menyusun rencana untuk menyingkirkan Donald Trump dengan paksa jika dia kalah dalam pemilihan dan menolak meninggalkan Gedung Putih.

Mantan Direktur Komunikasi Gedung Putih, Anthony Scaramucci, mengatakan Dinas Rahasia telah membuat rencana rahasia jika Trump memutuskan untuk memperpanjang masa tinggalnya di Oval Office jelang pelantikan presiden pada Januari 2021. (*)

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.