Temui Prabowo dan Muhyiddin Yassin, China Dekati Indonesia dan Malaysia demi Laut China Selatan


Temui Prabowo dan Muhyiddin Yassin, China Dekati Indonesia dan Malaysia demi Laut China Selatan
lndonesia.org -  Beijing tampaknya tengah berupaya menyaingi pengaruh Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan. Negara ini pun berusaha mendekati Indonesia dan Malaysia dengan mengirim menteri pertahanannya menyambangi 2 negara ASEAN itu pekan ini.

Dilansir dari South China Morning Post, Menteri Pertahanan China Wei Fenghe direncanakan bertemu dengan Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto di Jakarta pada Selasa (8/9). Meski bukan penggugat sengketa Laut China Selatan, Indonesia pernah ribut dengan Beijing saat kapal penangkap ikan China masuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di sekitar Kepulauan Natuna.

Namun, negeri yang kesulitan mengendalikan kasus COVID-19 dan menghadapi resesi ekonomi ini kembali berbaikan dengan China dalam mengamankan pasokan kandidat vaksin dan terus menyambut investasi China. Lawatan Wei ke Jakarta ini juga dibenarkan oleh juru bicara Prabowo, Dahnil Anza Simanjuntak.

Sehari sebelumnya, tepatnya pada Senin (7/9), Wei juga menyambangi tetangga Indonesia, Malaysia. Kepada Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin, Wei mengatakan China siap bekerja sama dengan negara-negara ASEAN dalam menjaga perdamaian di Laut China Selatan. Menurut Wei, menjaga stabilitas Laut China Selatan merupakan tanggung jawab bersama antara negara itu dengan Malaysia.

Wei menegaskan negaranya berkomitmen memperkuat kerja sama pertahanan antara kedua negara dan terus memajukan hubungan antarmiliter. Sementara itu, Muhyiddin menjawab Malaysia bersedia bekerja sama dengan China untuk memperkuat kerja sama bilateral di segala bidang, termasuk pertahanan, pendidikan, ekonomi, dan perdagangan.

Mengomentari lawatan Wei, Mantan Wakil Menteri Pertahanan Malaysia Liew Chin Tong memperingatkan Laut China Selatan bisa menjadi 'Balkannya Asia Tenggara'. Artinya kekuatan-kekuatan besar bisa menyusup ke dalam krisis dan perang lantaran tak ada penengah antara AS dan China.

"Dalam konteks meningkatnya ketegangan AS-China, tak ada wilayah lain yang lebih penting bagi kebangkitan China selain maritim Asia Tenggara. Saya konsisten menyarankan bahwa China harus memperlakukan negara-negara maritim Asia Tenggara sebagai prioritas kebijakan luar negeri nomor satu," tuturnya.

Menurut Liew, wilayah ini secara geografis dekat dengan China, tetapi negara-negaranya secara hati-hati menjaga nilai antara AS dan China. Ia mencatat Malaysia relatif bersahabat dengan China dibandingkan negara maritim Asia Tenggara lainnya. Kunjungan Wei ke Negeri Jiran pun tidak mengejutkan bagi Zachary Abuza, profesor sekaligus pengamat masalah keamanan Asia Tenggara di National War College, Washington.

"Malaysia adalah negara penting bagi China karena merupakan penerima utama dana Belt and Road Initiative dan investasi China lainnya," terangnya.

Abuza mengatakan China jelas mengambil keuntungan dari situasi AS yang telah melepaskan kepemimpinan dalam masalah keamanan dan ekonomi regional.

"AS kehilangan banyak pengaruh di kawasan ini. Sementara itu, China telah menjadi mitra dagang terbesar dari hampir semua negara di Asia Tenggara, sekaligus sumber investasi dan penyedia pinjaman," tambahnya.

Malaysia dan Brunei menentang klaim ekspansif Beijing di Laut China Selatan yang dilalui perdagangan pelayaran internasional senilai USD 3,4 triliun (Rp50,2 kuadriliun) setiap tahun. Namun, berbeda dari Vietnam dan Filipina, mereka tak banyak berkoar-koar mempersoalkan masalah ini.

Malaysia cenderung tak pernah blak-blakan mengkritik China di Laut China Selatan. Menurut Abuza, itu bukan gaya diplomatik Malaysia.

"Malaysia cenderung berbicara melalui pengajuan hukum di badan-badan PBB. Jika Anda membaca pengajuan terbarunya, mereka jelas sangat kritis terhadap China dan klaimnya," ujar Abuza.

Menurut Abuza, Malaysia sadar ia terlalu kecil untuk menghadapi China, sehingga mencoba menggunakan hukum internasional untuk mendukung klaimnya.

Sementara itu, menurut analis politik Azmi Hassan dari Universitas Teknologi Malaysia, hubungan pertahanan antara Malaysia dan China tetap sangat erat meski kapal perang dan nelayan China melanggar ZEE Malaysia. Dalam beberapa tahun terakhir, kapal selam China telah berlabuh di pelabuhan angkatan laut Sepanggar, Sabah, untuk mengusu bahan bakar. Menurut Azmi, hal ini akan terus berlanjut.

"Bukan rahasia lagi Malaysia kerap menjadi tuan rumah bagi kapal perang dan kapal selam China. Namun, media lokal jarang menyorotinya karena sensitivitasnya," tambah Azmi.

Izin berlabuh itu menunjukkan Malaysia tak menganggap China sebagai musuh dan masalah Laut China Selatan dapat diselesaikan dengan damai.

"China akan selalu menjadi mitra yang lebih bisa diandalkan dibandingkan dengan AS, tak hanya dalam perdagangan, tetapi semua sektor lainnya. Pasalnya, hubungan ini didasarkan pada rasa saling percaya dan keuntungan," sambung Azmi.

Azmi mengatakan AS dipandang kurang bisa diandalkan lantaran Presiden Donald Trump terlihat tak punya hasrat untuk melindungi Malaysia.

"Malaysia sangat mewaspadai hal ini. Mungkin saya sangat bias terhadap China. Namun, menurut saya, Malaysia perlu lebih pragmatis karena sadar hanya negara kecil," pungkasnya.[]

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.