Donald Trump: Militer AS Percaya Ledakan di Beirut adalah Serangan Bom


Donald Trump: Militer AS Percaya Ledakan di Beirut adalah Serangan Bom
lndonesia.org - Sebuah ledakan besar mengguncang Beirut disertai dengan kekuatan gempa pada Selasa (4/8). Ledakan juga diikuti oleh gelombang kejut yang menghancurkan jendela dan bangunan, serta menyebabkan kerusakan luas di ibukota Lebanon.

“Sedikitnya 100 orang tewas dan lebih dari 4.000 orang terluka,” menurut seorang pejabat Palang Merah Lebanon, George Kettaneh, yang juga memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa bisa bertambah.

Warga yang terluka membanjiri rumah sakit, sehingga mendorong mereka melewati kapasitas. Para pejabat medis juga menyampaikan bahwa mereka memohon bantuan sumbangan darah untuk para korban luka.

Menurut pusat geosains Jerman GFZ, Ledakan tersebut, disertai dengan kekuatan gempa berkekuatan 3,5 magnitudo, dan diikuti dengan kebakaran yang berkobar di daerah pelabuhan kota, berdasarkan pada beberapa video dari tempat kejadian. Meskipun penyebab ledakan belum secara resmi ditentukan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebutnya sebagai “serangan mengerikan” berdasarkan kecurigaan para jenderal AS yang tidak disebutkan namanya.

Dilansir laman news.yahoo.com, pejabat lokal masih menyelidiki pernyataan Trump mengatakan bahwa ledakan besar di Beirut tampaknya adalah sebuah ‘serangan’.

“Saya bertemu dengan beberapa jenderal besar kita dan mereka hanya merasa itu adalah semacam bom,” kata Trump pada konferensi pers Gedung Putih, di mana dia menyampaikan belasungkawa dan menawarkan bantuan kepada warga korban di Lebanon.

Abbas Ibrahim, Kepala Keamanan Umum Lebanon, mengatakan bahwa ledakan itu mungkin disebabkan oleh bahan peledak yang disimpan di pelabuhan setelah disita dari sebuah kapal. Dalam sebuah ciutan di akun presiden Lebanon, bahan itu diidentifikasi sebagai amonium nitrat.

Perdana Menteri Hassan Diab juga menyatakan hal serupa di twitter. “Tidak dapat diterima bahwa pengiriman amonium nitrat sebanyak 2.750 ton tersimpan selama enam tahun di sebuah gudang tanpa mengambil langkah-langkah pencegahan yang membahayakan keselamatan warga,” kata Diab.

Dalam kasus terorisme domestik yang mengguncang Amerika sebelumnya, Timothy McVeigh menewaskan 168 orang dengan membuat bom dari dua ton amonium nitrat, dicampur dengan bahan bakar minyak untuk meledakkan Gedung Federal Alfred P Murrah di Kota Oklahoma pada 1995. Video menunjukkan awan oranye di atas pelabuhan Beirut setelah ledakan, yang konsisten dengan ledakan terkait nitrat. Ledakan juga mengguncang bangunan, yang dihantam lagi oleh gelombang kejut yang menghancurkan jendela, dan mengirim pecahan kaca terbang ke udara.

CNN melaporkan bahwa Gubernur Beirut Marwan Abboud menyebutnya sebagai “bencana nasional,” dan perdana menteri menyatakan hari berkabung nasional. “Ledakan itu menyerupai apa yang terjadi di Jepang, di Hiroshima dan Nagasaki. Ini mengingatkan saya pada hal tersebut. Dalam hidup saya, saya belum pernah melihat kehancuran pada skala ini,” kata Abboud tentang awan jamur dari ledakan.

Pasukan Sementara PBB (UNFIL) di Lebanon mengatakan beberapa penjaga perdamaian angkatan lautnya juga terluka parah dalam ledakan itu. Salah satu kapalnya yang berlabuh di pelabuhan rusak. “Kami bersama rakyat dan Pemerintah Lebanon selama masa sulit ini dan siap untuk membantu dan memberikan bantuan dan dukungan,” kata Kepala Misi dan Komandan Pasukan UNIFIL, Mayor Jenderal Stefano Del Col, dalam sebuah pernyataan.

Video-video di media sosial menunjukkan suhu panas yang naik di wilayah pelabuhan, yang diperkirakan berasal dari kebakaran kawasan industri. Kemudian diikuti oleh ledakan yang menciptakan awan putih besar yang menyelimuti daerah itu. Sesaat kemudian, gelombang kejut menghantam.

Selama beberapa dekade terakhir, Beirut mengalami pertumpahan darah dari bom bunuh diri, konflik bersenjata dengan Israel, dan perang saudara. Bahkan sebelum ledakan ini, Lebanon telah terpuruk menuju kehancuran. []

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.