Rencana Pajak Sepeda Bertentangan dengan Peradaban Baru Masa Covid-19


Rencana Pajak Sepeda Bertentangan dengan Peradaban Baru Masa Covid-19

Oleh Dr. Syahganda Nainggolan

Siang malam orang orang bersepeda membludak ramai di Jakarta pada masa wabah pandemik ini. Mungkin juga di daerah lainnya. Hal ini membahagiakan Gubernur Jakarta Anies Baswedan, karena cita-cita Anies melihat Jakarta bebas polusi atau menurun polusinya mempunyai momentum untuk dilakukan.

Namun, hari ini kita dikagetkan berita viral yang mengutip pernyataan Dirjen Perhubungan Darat, Kemenhub, bahwa pemerintah akan memberlakukan pajak sepeda. Meskipun ada press release bantahan atas berita itu, namun sulit mencabut jalan pikiran pemerintah pusat soal sepeda ini. Sebab, sebelumnya ada juga berita media yang menyebutkan polisi atas dasar diskresinya menghilangkan jalan sepeda di pagi hari awal pelonggaran PSBB di Jakarta (lihat media online 15 Juni 2020). Polisi mengatakan keramaian kenderaan bermotor yang ada membutuhkan jalan lebih luas, sehingga mengorbankan jalur sepeda.

Langit Biru

Dalam tulisan saya sebelumnya, "Jalur Sepeda dan Tantangan Anies (21/9/19) &" Bersepeda Bersama Anies Baswedan" (9/10/19) saya sudah ungkapkan keharusan Jakarta mempropagandakan pentingnya transportasi sepeda menjadi transportasi "mainstream". Hal itu dikarenakan polusi di Jakarta sudah menjadikan kota itu sebagai kota terburuk polusinya di dunia dalam beberapa kali skor index polusi.

Pada tahun 2019, Indonesia ada di urutan pertama, kedua atau ketiga terburuk di dunia, bergantian dengan ibukota India, New Delhi, dan Lahore Pakistan. Pada 30 Juni 2020, AQ World Ranking, Air Visual, menempatkan Jakarta kembali nomor satu, diikuti Ho Chi Min City Vietnam dan Chengdu RRC. Buruknya polusi Jakarta ini mengurangi usia hidup selama 2-3 tahun. Greenpeace memperkirakan 7.390 penduduk Jakarta meninggal lebih cepat setiap tahun karena tingginya level polusi (PM 2,5) dan 2.000 bayi lahir kekurangan berat badan.

Pada saat diberlakukannya PSBB di Jakarta, akhir Maret hingga 15 Juni, langit Jakarta kelihatan bersih. Bahkan pada saat Hari Raya Lebaran masyarakat banyak memviralkan adanya pelangi menghiasi langit biru. Itu menandakan bersihnya udara Jakarta.

Selain langit, sungai pun menjadi bersih. Saya yang tinggal di pinggiran Kali Ciliwung hampir rutin mengamati sungai yang semakin banyak dikitari burung dan kupu-kupu. Ini adalah satu keajaiban dunia di tengah putus asanya pejuang "Climate Activist" mempromosikan langit biru. Seperti misalnya perjuangan, Greta Thunberg, perempuan 16 tahun, berlayar dengan boat tanpa motor melintasi laut Atlantik (Plymouth UK ke New York, USA) demi kampanye pengurangan polusi dunia.)

Bersepeda dan Perubahan Mindset

Pandemik yang belum tentu ada akhirnya ini membutuhkan (meminjam istilah Jokowi) orang-orang "extra ordinary" dan bekerja tidak linier. Tokoh-tokoh perubahan dunia, seperti David C. Kerton dkk melihat saat ini adalah saat tepat merubah dunia. Dunia lama yang dibimbing kapitalisme, pengrusakan alam, pengurasan sumberdaya alam untuk masa kini, konsumsi di atas segala galanya dan hidup dengan kesenjangan sosial, harus dihilangkan.

Pandemik memberikan peluang untuk perubahan itu. Pertama pandemik mendorong situasi uang bukanlah segalanya. Minimal kesehatan yang utama. 2) pandemik telah mengantarkan kita pada optimalisasi "digital life". 3) Pandemik telah mengajarkan solidaritas. 4) pandemik memberi kesempatan pada kita untuk mencintai alam dan 5) pandemik mengatur ulang sistem produksi dan reproduksi kehidupan.

Bersepeda adalah peluang bagi olahraga murah. Banyaknya anak muda, khususnya, dan juga orang tua bersepeda, menunjukkan keinginan berolahraga demi kesehatan sangat tinggi saat ini. Olahraga berjalan kaki, seperti yang ditunjukkan Jokowi dan Panglima TNI di istana Bogor, beberapa waktu lalu, mungkin tidak senikmat bersepeda. Sebab, dengan bersepeda jangkauan jarak akan lebih jauh. Bersepeda dengan teman-teman dapat meningkatkan solidaritas dan kekeluargaan. Di Jakarta pada malam hari masih banyak ditemukan anak muda bersepeda berkelompok.

Tahapan ini, bersepeda saat ini, adalah embrio bagi adanya perubahan "mindset" pentingnya bersepeda itu. Dalam tulisan saya sebelumnya, di masa lalu bersepeda dianggap merusak kesehatan, karena polusi, tidak aman lalu lintas dan dianggap tidak bergengsi dibanding memiliki motor atau mobil.

Namun, dengan fenomena hiruk pikuk kecintaan bersepeda saat ini, kita bisa mendorong bersepeda bukan hanya untuk olahraga dan jangka pendek masa pandemi, namun bersepeda menjadi andalan transportasi di Jakarta.

Dan itu hanya bisa jika pemerintah membantu ke arah sana. Baik dari sisi regulasi maupun pemberian insentif bersepeda. Insentif misalnya dikaitkan dengan kompensasi bagi pesepeda ke kantor (Bike to Work) sejarak tempuh 5 km dengan hadiah. Atau pemerintah mengharuskan penggunaan sepeda dalam radius 5 km Monas. Tentu saja dilengkapi kemudahan fasilitasnya.

Sehingga pandemi dapat dimaknai positif dengan adanya perubahan peradaban di Jakarta atau bahkan di Indonesia.

Memberlakukan pajak atas sepeda maupun memanjakan pemakai kendaraan bermotor merupakan pikiran yang tidak sejalan dengan perlunya sebuah paradigma kehidupan baru. Jakarta, khususnya, perlu sebuah kehidupan baru dengan membangun orientasi hidup pada kesehatan, bebas polusi, dan penggunaan transportasi murah. Peluang itu hanya ada saat ini, ketika dunia, khususnya, sistem produksi dan reproduksi membutuhkan penataan baru.

Bersepeda yang semakin digandrungi saat ini adalah embrio bagi kecintaan hidup sehat dan kehidupan solidaritas anak anak muda, khususnya di Jabotabek. Embrio ini dapat didorong menjadikan bersepeda sebagai transportasi mainstream rakyat, apabila pemerintah mampu mendorong ke arah sana. Ini adalah perubahan besar yang akan menguntungkan Jakarta dan Indonesia tentunya. Hidup sehat, badan kuat dan langsing, transportasi murah, dan udara bersih.

Getolnya Anies Baswedan memprakarsai sepeda sebagai alat transportasi utama harus didukung. Memang dalam bisnis ada trade off, jika banyak orang bersepeda, maka pasar kendaraan bermotor dan pajaknya berkurang. Namun, pandemik mengajarkan kita bahwa pikiran keuntungan material bukanlah segalanya. Manusia harus hidup dalam pandangan "economy of needs" bukan "economy of wants".

Dengan bersepeda di masa covid-19 dan sesudahnya, orang akan sehat (sukses "herd immunity") dan langit akan selalu biru. (*)

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.