Kim Jong-un Eksekusi Mati Pejabat Korut karena Beli Alat Medis Murah dari China


Kim Jong-un Eksekusi Mati Pejabat Korut karena Beli Alat Medis Murah dari China

lndonesia.org - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un kembali mengeksekusi seorang pejabat partai hanya karena membeli alat medis dari Tiongkok dengan harga murah. 

Kim Jong Un secara pribadi mulai membangun Rumah Sakit Umum Pyongyang pada Maret tahun lalu. Ia menuntut fasilitas itu dibangun hanya dalam waktu enam bulan, seperti yang dikutip dari Daily Mail.

Saat tengat waktu, rumah sakit tersebut tidak memiliki peralatan medis dasar.

Seorang pejabat mencoba mencari solusi untuk mengisi rumah sakit tersebut dengan peralatan medis. Ia membayar harga tertinggi untuk beberapa peralatan medis buatan Tiongkok yang ternyata bertentangan dengan visi Kim Jong-un untuk rumah sakit.

Kim menginginkan fasilitas itu dilengkapi dengan peralatan medis dari Eropa, menurut surat kabar Daily NK Korea Selatan.

Kim Jong-un, yang menghabiskan sebagian masa kecilnya di Swiss, dilaporkan percaya peralatan buatan Eropa memiliki kualitas terbaik. Oleh karena itu, partai mengalokasikan anggaran yang besar untuk melengkapi rumah sakit tersebut sesuai dengan keinginannya.

Tetapi para pejabat tersebut kesulitan membeli peralatan medis dari Korea Utara lantaran sanksi Eropa terhadap Korea Utara, sekaligus karena masalah pandemi yang sangat sulit membawa barang-barang tersebut ke negara netral ketiga.

Sehingga sebuah rencana alternatif dibuat untuk menggunakan peralatan Tiongkok sebagai gantinya. Namun, kontrak pembelian terlanjur ditandatangani sebelum Kim Jong-un dapat menyetujui perubahan tersebut.

Hal itulah yang membuat Kim Jong-un marah besar.

Pria yang dikutuk adalah wakil direktur di Kementerian Luar Negeri, yang berusia awal 50-an, dan bertanggung jawab untuk mengimpor dan mengekspor, lapor Daily NK. Tidak hanya itu, seorang eksekutif di Kementerian Kesehatan juga diberhentikan, kata surat kabar itu.

Ini bukan pertama kalinya Kim Jong Un mengeksekusi pejabatnya sendiri. Sebelumnya, beberapa pejabat lain juga sempat dieksekusi hanya karena gagal menyediakan fasilitas sekolah online. []

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.