Data CVR Terbaca, KNKT Berhasil Ketahui Percakapan Pilot 2 Jam Sebelum Sriwijaya Air Jatuh


Data CVR Terbaca, KNKT Berhasil Ketahui Percakapan Pilot 2 Jam Sebelum Sriwijaya Air Jatuh

lndonesia.org -  Komite Nasional Keselamatan Transportasi berhasil mengunduh data percakapan dari Cockpit Voice Recorder (CVR) yang telah berhasil ditemukan.

Data tersebut termasuk percakapan penerbangan yang mengalami kecelakaan.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahyono menyampaikan, pihaknya juga berhasil mengunduh seluruh 4 channel dari CVR, namun channel 4 pada CVR mengalami gangguan.

"Meskipun demikian, berdasarkan rekaman yang ada tersebut, telah menambah data penting bagi investigasi yang hasilnya nanti akan disampaikan dalam laporan akhir," kata Soerjanto Tjahyono dalam keterangan tertulis, Selasa, 13 April 2021.

Kronologi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air

Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 mengalami kecelakaan pada 9 Januari 2021 dalam rute penerbangan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta tujuan Bandar Udara Internasional Supadio, Pontianak dengan diawaki oleh 2 pilot, 4 awak kabin dan 56 penumpang.

Tiga hari pascakejadian, tepatnya pada 12 Januari 2021, Flight Data Recorder (FDR) ditemukan.

KNKT kemudian mengumumkan hasil investigasi awal pada 10 Februari 2021 lalu dalam laporan berjudul preliminary report.

Baca Juga: Sri Mulyani: Korupsi Hambat Indonesia Jadi Negara Berpendapatan Tinggi

Baca Juga: Geram Polisi Terlibat Narkoba, Kapolri: Kalau Sudah Tidak Bisa Dibina, Binasakan

Sampai dengan berakhirnya proses pencarian para korban SJ-182 yang dipimpin oleh Basarnas pada 22 Januari 2021, CVR belum ditemukan.

Untuk itu, KNKT melanjutkan proses pencarian CVR di sekitar area ditemukannya FDR.

Tanggal 26 Januari 2021 sampai dengan tanggal 14 Februari 2021, tim KNKT bersama dengan tim penyelam dari Pulau Pari (Kepulauan Seribu) melanjutkan pencarian CVR dengan pembuatan perimeter 50x50 meter di bawah air oleh para penyelam.

Proses pencarian CVR juga melibatkan metode penyemprotan lumpur di sekitar penemuan FDR oleh para penyelam, namun demikian proses ini tidak mendapatkan hasil.

Kendala utama dalam proses pencarian CVR ini adalah cuaca dan jarak pandang yang terbatas di bawah air. Selanjutnya pada 15-21 Februari 2021, tim penyelam dari Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) TNI AL bergabung dalam tim penyelam.

Proses pencarian masih dengan menggunakan metode visual. Pencarian ini juga tidak mendapatkan hasil karena kendala cuaca dan jarak pandang di bawah air.

Tanggal 22 Februari sampai 12 Maret 2021, tim KNKT berkoordinasi dengan pihak PT. Sriwijaya Air untuk penggunaan metode penyedotan lumpur atau Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD) oleh kapal King Arthur 8 yang saat itu masih berada di Teluk Lamong (Pacitan) Jawa Timur.

Sebelum pelaksanaan penyedntan lumpur, tim penyelam yang dipimpin KNKT melaksanakan penyelaman untuk pembersihan area dengan mengangkat puing-puing pesawat yag terlihat sekaligus melakukan pencarian dengan metode visual.

Kemudian pada 25 Maret 2021, kapal TSHD King Arthur 8 sampai di perarian pulau Lancang Kepulauan Seribu. Hari itu, pencarian CVR dilakukan dengan cara penyedotan lumpur oleh kapal TSHD King Arthur 8 dengan area yang diperbesar yaitu 90 x 90 meter.

Tanggal 30 Maret 2021 jam 20.05 WIB, CVR tersedot dari bawah air dan ditemukan di penampungan serpihan kapal TSHD King Arthur 8.

Hingga saat ini, proses investigasi masih terus dilakukan oleh tim KNKT disertai dengan proses penelitian yang mendetail.

KNKT menegaskan, setelah ditemukannya semua bagian black box ini memberikan titik terang untuk dapat mengusut penyebab terjadinya kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182.***

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.