Gerakan Pemuda Kabah Tak Rela Indonesia Buka Investasi Industri Miras


Gerakan Pemuda Kabah Tak Rela Indonesia Buka Investasi Industri Miras


lndonesia.org -  Gerakan Pemuda Kabah (GPK)menentang rencana pemerintah membuka investasi yang sebesar-besarnya untuk industri minuman keras (miras).

Dikatakan Ketua GPK Andi Surya Wijaya, investasi itu bukan mendatangkan kesejahteraan bagi bangsa. Namun, malah akan membuat Indonesia terpuruk.


Andi menyebutkan, penolakannya bukan karena diharamkannya miras dalam agama Islam, namun karena faktor negatifnya yang sangat besar.

Meski begitu, dia menegaskan tetap menghormati pemeluk agama lain yang mengkonsumsi minuman beralkohol. Namun, dengan investasi akan membuat peredaran miras semakin massif dan dikonsumsi berlebihan.

“Miras bukan lagi masalah agama, karena fakta telah membuktikan bahwa miras memicu kekerasan sosial, kriminalitas, kecelakaan, pembunuhan yang mengakibat banyak korban jiwa,” kata Andi dalam keterangannya, Sabtu (27/2).

Ketua DPP PPP ini menambahkan, akan semakin banyak anak di bawah umur yang konsumsi miras. Hal ini berimbas pada perilaku mereka yang suka mabuk dan tidak produktif.

“Kami tidak rela Indonesia menjadi tempat berdirinya pabrik miras. Masih banyak peluang investasi lainnya bagi Indonesia untuk kesejahteraan rakyat. Misalnya investasi di bidang pangan, energi, dan lainnya,” jelasnya.

Membuka investasi miras menurut Andi juga mencerminkan cara pemerintah yang tidak kreatif dalam mendatangkan investor. Padahal jika lebih kreatif, banyak perusahaan besar yang mempunyai pangsa pasar global datang ke Indonesia.

“Kami mendukung investasi, tidak tidak investasi yang merusak tatanan sosial dan moral bangsa. Mari kita kreatif dalam mendatangkan investator global,” pungkas Andi.

Ditambahkan M. Thobahul Aftoni, salah satu ketua GPK, peredaran miras yang massif akan membuat para pendidik semakin kesulitan untuk membina akhlak dan perilaku generasi muda.

Tarbiyah atau pendidikan di sekolah, musholla, dan tempat lainnya mendapatkan hambatan yang lebih besar.

“Para guru, ustaz, pemuka agama akan lebih kesulitan menata moral generasi muda yang berimbas pada perilaku mereka sehari-hari yang jauh dari akhlak yang baik,” ungkap Aftoni(RMOL)

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.