Presidium KAMI: Jangan Mentang-mentang Memiliki Kekuasaan Eksekutif dan Legislatif Kemudian Bandel


Presidium KAMI: Jangan Mentang-mentang Memiliki Kekuasaan Eksekutif dan Legislatif Kemudian Bandel


lndonesia.org - Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Din Syamsuddin mengungkapkan fakta kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Disebutkan, dengan mengadu domba dan melakukan upaya penyusupan kekerasan di kalangan Islam.

”Saya kira kasus percobaan pembunuhan atau penikaman atas Syekh Ali Jaber di Lampung bukan masalah sederhana. Dan itu sudah terjadi sebelumnya,” kata Din dalam kanal Hersubeno Arief di YouTube dikutip Kamis 24 September 2020.

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini mengaku sudah mengamati sejak 2014, sepertinya ada situasi politik psikologis yang dianggap kondusif oleh kelompok berpaham komunis untuk bangkit.

“Ini pengamatan saya beberapa tahun. Apakah ini karena ketidaktahuan rezim yang berkuasa akan sejarah komunisme sehingga memiliki pandangannya sendiri,” ujarnya.

Din Syamsuddin menyebutkan, ada jejak digital berupa pertemuan, foto-foto, tetapi tidak pernah ditindak. Kondisi ini membuat kelompok tersebut, lanjut Din, merasa ada momentum untuk bangkit.

Din Syamsuddin mengatakan, upaya kebangkitan ini mencapai puncak ketika berani mengajukan RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Namun, dia pastikan kalangan Islam dan TNI tidak akan membiarkan itu.

“Sayangnya, beberapa kali rapat di Baleg tidak mencabut RUU itu. Saya mendengar kalangan Islam diprakarsai MUI dan ormas-ormas Islam akan menunggu kalau sampai RUU tidak dicabut itu adalah satu bukti bahwa ada sebuah pemaksaan,” tegasnya.

Pemaksaan ini, lanjut Din Syamsuddin, tidak lain karena ada sebuah perasaan dominan baik di eksekutif maupun legislatif.

“Ini mengulangi sejarah. Sejarah mengulangi dirinya sendiri,” ujarnya.

Dia mengimbau seluruh rakyat untuk sadar, jangan sekali-kali mengulangi sejarah 1948, 1965 yang sangat kelam bahkan hitam. Janganlah mencoba-coba lagi. Kalau tidak didengar, kelompok yang cinta Pancasila tidak akan membiarkan.

“Kalau ini terjadi, Indonesia yang besar dan majemuk akan berada pada situasi penuh perselisihan, persengketaan dan itu tidak baik karena akan mengulangi sejarah lagi,” ucapnya.

Din Syamsuddin mengatakan, masih ada waktu mengingat sejarah kelam pemberontakan PKI. Kalau sampai TVRI sebagai televisi pemerintah tidak mau memutar kembali film sejarah pemberontakan G30S/PKI dan tidak ada upaya pemerintah mengenang sejarah kelam itu, jadi pertanda nyata kebangkitan komunis.

Menurutnya, hal itu akan menimbulkan reaksi cukup besar. “Marilah kita kenang kembal sejarah kelam itu, katakanlan dengan dialog, sebuah kesadaran. Jangan mentang-mentang memiliki kekuasaan eksekutif maupun legislatif kemudian bandel. Nah, ini yang tidak harus terjadi,” tandasnya. (*)

Tidak ada komentar


Diberdayakan oleh Blogger.