Header Ads

Loading...

Fadli Zon Kerap Bikin Kontroversi, Ternyata Seperti Ini Nilainya Saat Kuliah


[lndonesia.org] JAKARTA - Fadli Zon (47) ikut mewarnai dinamika pentas politik nasional dalam beberapa tahun terakhir.

Posisinya sebagai Wakil Ketua DPR membuat pria asal Sumatera Barat kerap menyampaikan kritikan kepada pemerintahan yang dipimpin Presiden dan Wakil Presiden RI, Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) dalam 3 tahun terakhir.

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto menganggap demokrasi di Indonesia butuh sosok kontroversial seperti Fadli sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gerindra.

"Fadli Zon yang penuh kontroversi, memang demokrasi membutuhkan kontroversi, asal damai dan tentram," kata Prabowo dalam pidatonya di Kantor DPP Gerindra, Ragunan, Jakarta, Sabtu (10/2/2018).

Prabowo mengaku sulit mengendalikan Fadli agar tak membuat pernyataan atau sikap yang kontroversial meskipun awalnya Fadli merupakan anak buahnya sebelum duduk di kursi pimpinan parlemen.

"Sekarang (Fadli Zon) Wakil Ketua DPR RI, dari segi protokol aku kalah, tetapi di partai aku masih (pemimpin) Fadli Zon," ujar Prabowo yang disambut tawa kadernya pada waktu itu.

Prabowo juga bercanda, Fadli juga bisa menjadi Presiden Indonesia.

Namun, kata dia, namanya perlu diubah terlebih dulu agar memenuhi syarat.

"Wakil Ketua Umum Gerindra, Ferry Juliantono, memenuhi syarat jadi presiden RI, karena ada o-nya. Pak Fadli bisa juga, Fadli Zono," ujar Prabowo yang lagi-lagi membuat tawa kadernya pecah.

Summa Cum Laude dan Mawapres

Di balik kontroversialnya suami Katharine Grace, ternyata dia sosok yang cerdas dari sisi akademik.

Anak pertama dari 3 bersaudara pasangan Zon Harjo dan Ellyda Yatim itu menyelesaikan pendidikan dasar di Desa Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Ia lalu melanjutkan pendidikan SMP-nya di Gadog, Bogor, dan kemudian pindah ke Jakarta.

Fadli belajar selama 2 tahun di SMA Negeri 31, Jakarta Timur, sebelum akhirnya mendapat beasiswa dari AFS (American Field Service) ke San Antonio, Texas, Amerika Serikat.

Di Negeri Paman Sam, ia lulus dengan predikat summa cum laude.

Lulusan yang mendapatkan predikat summa cum laude memiliki Indeks Prestasi Kumulatif atau IPK 3.80 ke atas.

Fadli kemudian melanjutkan studinya di program Studi Rusia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Semasa kuliah, Fadli aktif di berbagai organisasi, baik intra maupun ekstra kampus.

Ia pernah menjadi Ketua Biro Pendidikan Senat Mahasiswa FSUI (1992-1993), Sekretaris Umum Senat Mahasiswa FSUI (1993), Ketua Komisi Hubungan Luar Senat Mahasiswa UI (1993-1994).

Ia aktif dalam kehidupan politik kampus dengan memimpin berbagai demonstrasi dan menghidupkan kelompok-kelompok studi di dalam kampus UI era awal 1990-an.

Selain itu, ia juga bergabung dengan Teater Sastra UI.

Di luar kampus, ia pernah menjadi Sekjen dan Presiden Indonesian Student Association for International Studies (ISAFIS) pada 1993-1995.

Jadi pengurus pusat KNPI (1996-1999), pengurus pusat Gerakan Pemuda Islam (1996-1999), dan anggota Asian Conference on Religion and Peace (ACRP) sejak 1996.

Pada tahun 1994, Fadli Zon terpilih menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) I Universitas Indonesia dan Mahasiswa Berprestasi III tingkat Nasional.

Ia memimpin delegasi mahasiswa Indonesia dalam ASEAN Varsities Debate IV (1994) di Malaysia.

Pada tahun 2002, ia mengenyam pendidikan di London School of Economics and Political Science (LSE) di bawah bimbingan John Harriss dan Robert Wade.

Pada 8 Oktober 2015, Fadli dipilih sebagai Presiden Global Organization of Parliamentarians Against Corruption (GOPAC) atau Organisasi Parlemen Antikorupsi Sedunia menggantikan presiden sebelumnya, Garcia Cervantes yang berasal dari Meksiko.

Ia terpilih secara aklamasi dalam rapat Dewan Direksi GOPAC yang berlangsung di Yogyakarta.

Dihadiri sejumlah perwakilan GOPAC regional Afrika, Arab, Amerika Latin, Asia Timur, Oseania, Karibia, dan Amerika Utara. [trb]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.