Header Ads

Loading...

Masyarakat Ternyata Lebih Kecewa Pertamax Naik



[lndonesia.org] - Pada Rabu (10/10) lalu pemerintahan Presiden Joko Widodo membuat geger. Hal itu lantaran kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan yang mengumumkan kenaikan harga BBM jenis premium menjadi Rp 7.000 per liter. Namun baru satu jam mengumumkan kebijakan itu langsung dianulir oleh sang Presiden.

Namun begitu, kebijakan mantan Menteri Perhubungan yang dianulir oleh atasannya sendiri ini bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya saat menjabat sebagai Menhub, Jokowi juga pernah menganulir kebijakan Jonan soal transportasi online. Bagaimana ya tanggapan masyarakat?

JawaPos.com mencoba mengumpulkan opini masyarakat tentang kebijakan kenaikan premium yang kemudian dibatalkan ini. Salah satunya, mahasiswa bernama Adam Zaki Hizbullah. Adam, sapaan akrabnya, mengaku tak terlalu ambil pusing atas kebijakan kenaikan harga premium yang maju mundur itu.

Ia justru lebih khawatir dengan harga Pertamax yang sudah fix naik. Pasalnya, motor yang ia gunakan keluaran tahun 2016 itu bukanlah motor yang terbiasa minum premium, tidak pernah malah.

“Sejak beli motor ini saya sudah nggak pake premium, karena mesinnya kan baru. Saya sih cari aman saja dengan cara memakai pertamax setiap isi BBM,” jelasnya kepada JawaPos.com.

Ia justru menyayangkan kenapa harga pertamax terus naik bertahap. Perlahan tapi pasti. Akhirnya ia pun tak bisa lagi setia hanya kepada pertamax yang sudah digunakan sejak dua tahun lalu itu. Adam berniat untuk melakukan mix bahan bakar dengan sesekali mengisi bbm jenis Pertalite untuk motornya.

“Mau nggak mau ya diselingi sama pertalite sekarang, soalnya harga pertamax udah nggak bersahabat lagi di kantong mahasiswa tingkat akhir kayak saya,” tuturnya.

Tak jauh berbeda dengan Astrya Novianna, karyawati di perusahaan swasta di Jakarta Barat ini juga mengaku tidak terlalu memperhatikan kenaikan harga premium yang ia beli. Selama ini ia tak pernah lagi membeli bbm jenis premium.

Meski tak tahu banyak soal mesin kendaraan tetapi Astrya paham betul jika premium bukanlah standar oktan bensin yang mesti ia gunakan untuk kendaraannya.

“Selama ini saya pake pertamax dan gak perhatiin harganya juga, tapi engga sadar naik terus lama-lama mahal juga ya,” jelas Astrya.

Sementara Arif Zamzami Lubis, yang saat ini bekerja di perusahaan tambang swasta mengatakan ia tak ambil pusing dengan maju mundur keputusan pemerintah soal premium. Pasalnya selain tak lagi menggunakan premium, ia juga merasa kesulitan untuk menemukan premium di SPBU.

“Sekarang nggak semua pom bensin ada premiumnya, katanya premium udah gak disubsidi lagi tapi kenyataannya di pom bensinnya aja engga ada premium,” tuturnya.

Ia pun juga mengetahui jika sempat ada kabar bahwa harga bbm jenis premium akan naik namun akhirnya dibatalkan. Arif merasa tidak heran atas kejadian itu, sebab ia mengikuti betul setiap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yang jadi buah bibir masyarakat.

“Soal (kebijakan Menteri Jonan yang dibatalkan) itu sih udah biasa ya. Kan sebelumnya juga udah pernah soal (kebijakan) transportasi online yang dibatalin lewat twitter (Presiden),” tukasnya. [jpc


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.