Header Ads

Kiai Maruf Amin Terima Ulos Dari Ephorus dan Petinggi Gereja HKBP


[lndonesia.org] - Calon Wakil Presiden KH Maruf Amin dan istri Wury Estu Handayani dikalungi ulos Batak oleh Ephorus dan petinggi gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Peristiwa kultural ini terjadi ketika Maruf diundang sebagai tokoh bangsa ke acara rapat Majelis Pekerja Sinoed HKBP di kantor pusatnya di Pearaja, Tarutung. Rapat dipimpin langsung Ephorus Pendeta Dr. Darwin Lumban Tobing, Jumat (5/10).

Sebelum memberi ulos, Ephorus Darwin mengatakan bahwa bagi orang Batak, ulos berarti permohonan dengan titipan doa kepada Tuhan agar setiap rencana dan cita-cita diberkati.

"Maka ini Bapak, ulos kami berikan kepada bapak dan ibu. Kami berharap, kami berdoa, kami bercita-cita agar segala rencana bapak menjadi wakil presiden Republik Indonesia, kiranya Tuhan meridhoi. Kiranya Tuhan mengabulkan, kiranya Tuhan meluluskan rencana itu," tutur Pendeta Darwin.

"Bila kami memberi ulos ini, dimanapun kami berada kami selalu mendukung dan berdoa untuk bapak," tambahnya.

Sehelai ulos lalu dikalungkan di sekeliling Kiai Maruf dan istri. Ditimpali juga dengan peribahasa Batak, yang disebut umpasa, bermakna bahwa kemanapun Kiai Maruf dan istri melangkah akan selalu mendapatkan kebaikan.

"Kami bahagia, kunjungan bapak ini akan membawa makna dan kesejukan bagi kita bersama," kata Pendeta Darwin Lumban Tobing.

Dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, sebelum menerima ulos, Kiai Maruf diberi waktu untuk bicara di hadapan ephorus dan petinggi HKBP serta sejumlah gereja kristiani lainnya.
Kiai Maruf mengawali pernyataannya dengan salam. "Assalamualaikum," kata Kiai Maruf djawab 'Waalaikumsalaam' oleh peserta acara.
Kiai Maruf bicara soal Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan negara yang final, sebagai sebuah kesepakatan hidup bersama dalam wadah NKRI. Disampaikannya bahwa selama ini kerukunan bisa terjaga karena upaya bersama yang dilakukan antar komunitas umat beragama.

Dia juga bicara berbagai potensi permasalahan yang timbul dalam kehidupan antarumat beragama. Sebagai contoh adalah soal ijin membangun rumah ibadah.

"Maka kita harus cepat selesaikan konflik, dan negara harus hadir mengambil peran," kata Kiai Maruf.

Yang pasti, menurutnya, kedamaian akan bisa tercipta kalau ada saling pengertian. Bila ada saling pengertian, salah sedikit bisa ditoleransi.

"Marilah bangun bangsa ini di atas prinsip saling pengertian. Kita bangun negara ini bersama-sama untuk menghilangkan kesenjangan," kata Kiai Maruf.

"Marilah kita bersama menghilangkan segala disparitas, melalui pemberdayaan ekonomi rakyat, ekonomi berkeadilan yang sesuai sila kelima Pancasila," tegasnya.[rmol
Loading...
loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.