Header Ads

Fahri Hamzah: Bagaimana RI Maju Kalau Pemimpinnya Empot-empotan!


[lndonesia.org] Jakarta - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzahberharap Presiden RI mendatang harus setara dengan Sukarno. Fahri menyayangkan jika pemimpin RI seperti kesusahan dalam mengelola negara.

"Yang jadi presiden kita itu yang terbaik dong, yang jago dong. Standar presiden kita itu Sukarno gitu dong, raksasa intelektual dunia," kata Fahri di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/7/2018).

"Ini nggak, susah kita Indonesia. Gimanamau maju kalau pemimpinnya empot-empotan ya," imbuhnya.

Fahri lalu menjelaskan maksud 'empot-empotan' itu. Menurut dia, pemimpin RI tak bisa mengangkat kejayaan RI.

"Kan ini pemimpin empot-empotan nggak bisa ngangkat sayap republik. Kita cari yang jago yang bisa ngangkat sayap republik, republik ini terbang tinggi. Kalau kayak begini, nggak terbang kita, Bos," sebut Fahri.

Dia pun berbicara soal pemilihan presiden. Fahri mendukung gugatan presidential threshold atau ambang batas pengajuan capres yang sedang bergulir di Mahkamah Konstitusi (MK) karena ingin Pilpres 2019 seperti di Amerika Serikat (AS).

"Saya sendiri berkepentingan supaya masyarakat itu banyak kandidatnya. Kalau saya inginnya tuh pilpres kita kayak pilpres di Amerika, wah debatnya banyak," ujar dia.

Fahri ingin kontestasi Pilpres RI seperti di Amerika, salah satunya dipenuhi debat. Fahri juga ingin proses kampanye pilpres diperpanjang.

"Bila perlu setahun itu prosesnya. Wah, partai-partai keliling Indonesia, Sabang sampai Merauke, keliling di kampus-kampus besar di daerah itu, debat," ucap Fahri.

"Di Aceh, dia berdebat tentang masa depan Aceh, di Papua di Universitas Cendrawasih, beedebat tentang masa depan pengelolaan Papua, masa depan tambang dan sebagainya," jelas Fahri.

Fahri juga ingin capres-capres nanti berkeliling RI. Bagi Fahri, mengetahui permasalahan di seluruh pelosok negeri itu penting.

Dengan alasan di atas, Fahri menegaskan dirinya ingin tak ada pembatasan pengajuan calon presiden. Dia berharap MK membatalkan aturan yang termaktub dalam UU Pemilu itu.

"Kan enak rakyat yang nonton banyak. Ini kandidat berantem dulu ya kan, lalu dikerucutkan calon partai-partai. Berantem putaran satu selesai, putaran kedua suruh berantem lagi dia orang itu. Kan asyik rakyatnya kalau kayak begitu. Kita bisa lihat bener ini siapa yang kredibel," ucap Fahri. [dtk]
loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.