Header Ads

Rezim Takut Kaos, Tulisan TB Ardi Januar Ini Makjleeb Banget!


[lndonesia.org] Penyakit kaosphobia yang menjangkit penguasa semakin menggila. Aparat dikerahkan, intel diterjunkan, surat edaran diterbitkan, aksi tandingan dikerahkan.

Dalam teori classical conditioning di dalam ilmu psikologi, tindakan itu wujud kepanikan dan ketakutan yang ekstrem.

Hanya karena kaos bertagar #2019GantiPresiden, kantor Partai Gerindra di Semarang didatangi aparat bersenjata. Di Medan surat edaran pencegahan dilayangkan. Di Makassar orang disweeping aparat kepolisian. Di Jakarta bocah di bawah umur dikerahkan untuk menggelar aksi tandingan. Bahan kaosnya jelek dan ukurannya kedodoran. Kasihan...

Polisi pernah berkata, kaos #2019GantiPresiden tidak dilarang. Bawaslu juga bilang kaos itu tidak masuk konteks pelanggaran. Sayang, penguasa sudah kadung parno dan gelap mata. Mereka khawatir gerakan ini kian membesar yang efeknya tak bisa melanjutkan kekuasaan.

Penguasa saat ini sangat demokratis dalam ucapan, tapi tirani dalam tindakan. Gerakan kaos dikebiri, para kritikus ditangkapi, akun sosmed yang vokal dibuat mati. Dia biarkan publik membaca portal abal-abal versinya sendiri sebagai rujukan informasi.

Ngakunya kangen didemo, tapi nyatanya saat umat membanjiri Istana dia minggat ke bandara. Ngakunya demonstran akan disambut makan, tapi nyatanya mereka malah dihadapi dengan senapan.

Sebenarnya apa yang harus ditakuti dengan kaos #2019GantiPresiden bila survei kepuasan publik katanya sangat tinggi? Apa yang harus ditakuti bila elektabilitas nama dia katanya mengudara sendiri? Apa yang harus ditakuti bila sederet partai katanya sudah dikuasai? Apa yang harus ditakuti bila logistik dan materi katanya paling mumpuni?

Jangan-jangan angka survei kepuasan itu dusta. Jangan-jangan data statistik itu bohong belaka. Jangan-jangan isu elektabilitas tinggal 11 persen itu benar adanya. Jadi kita harus maklum bila penguasa sedang panik dan kalap.

Saya sama sekali tidak mengecam atau menyayangkan sweping kaos #2019GantiPresiden. Saya malah mendukung agar tindakan represif ini dilanjutkan. Kenapa...? Karena dengan demikian perlawanan akan semakin besar. Konsolidasi rakyat akan semakin tak terbendung.

Sudah menjadi hukum alam, bahwa semakin nyata penindasan, akan semakin keras pula perlawanan. Dan sudah menjadi hukum alam juga, bahwa kepanikan dan ketakutan semakin mendekatkan dengan kekalahan dan kehancuran.

Kini, masyarakat dihadapi dengan dua pilihan. Masuk lingkaran penguasa yang sedang dilanda ketakutan, atau bergabung dengan barisan rakyat yang optimis ingin perubahan. Kita boleh percaya dengan statistik atau angka-angka versi mereka, tapi kita tidak bisa membohongi rasa dan menabrak logika.[rmol]

TB Ardi Januar
Kader muda Partai Gerindra, tinggal di Jakarta

loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.