Header Ads

UI Pastikan Rocky Gerung Tak Lagi Menjadi Dosen


[lndonesia.org] JAKARTA - Nama pengamat politik Rocky Gerung belakangan heboh. Hal ini dikarenakan dia menyebut kitab suci sebagai fiksi ketika menjadi pembicara dalam acara talk show di salah satu stasiun televisi swasta.

Rocky sempat disebut sebagai salah satu dosen di Universitas Indonesia (UI). Namun hal itu langsung dibantah.

“Saat ini status Pak Rocky Gerung tidak lagi mengajar di UI,” kata Humas UI Rifely Dewi Astuti dikutip dari JPNN, Kamis (12/4).

Dia juga mengklarifikasi bahwa Rocky belum mendapatkan gelar profesor. “Jadi, saat ini beliau belum memperoleh gelar profesor dari UI,” tambah dia.

Diketahui, Rocky dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Permadi Arya alias Abu Janda.

Laporan itu diterima dengan nomor register LP/2001/IV/2018/PMJ/Dit. Reskrimsus tertanggal 11 April 2018.

Bersama Sekjen Cyber Indonesia Jack Boyd Lapian, dia membawa barang bukti berupa CD yang berisi rekaman video saat Rocky Gerung menyampaikan pernyataan yang mengundang kontroversi itu.

Atas laporan itu, Rocky Gerung terancam dijerat Pasal 28 Ayat 2 juncto Pasal 45 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang ITE.



Sebut Kitab Suci Fiksi, Ini Penjelasan Rocky Gerung


Dosen Filsafat dari Universitas Indonesia Rocky Gerung mengatakan, kitab suci adalah fiksi. Namun demikian ia tak menyebut kitab suci agama apa yang dimaksud.

Pernyataan Rocky disampaikan  dalam acara Indonesia Lawyers Club dengan tema 'Jokowi-Prabowo Berbalas Pantun' pada Selasa (10/04/2018) malam.

Acara tersebut membahas isu hangat yang terjadi belakangan ini, salah satunya soal pidato Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menyinggung soal Indonesia bubar 2030, yang disebut dikutip dari novel fiksi berjudul 'Ghost Fleet' karya PW Singer dan August Cole.

Berikut rangkuman beberapa pernyataan Rocky Gerung yang menyebut kitab suci itu fiksi.

Asal usul dari masalah ini adalah soal fiksi atau fakta, dan itu sebetulnya permulaan yang buruk, karena waktu kita sebut fiksi di kepala kita adalah fiktif, fiction itu kata benda, yaitu literatur, selalu ada pengertian literatur di dalam kata fiksi. Tapi karena dia diucapkan dalam satu forum politik, maka dia dianggap sebagai buruk.

Fiksi itu sangat bagus, dia adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi, itu fungsi dari fiksi itu. Dan kita hidup dalam dunia fiksi lebih banyak daripada dalam dunia realitas. Fiksi lawannya realitas bukan fakta.

Jadi kalau anda bilang itu fiksi lalu kata itu jadi pejorative, itu artinya kita menginginkan anak-anak kita tidak lagi membaca fiksi. Karena sudah 2 bulan ini kata fiksi itu menjadi kata yang buruk.

Kitab suci fiksi atau bukan, siapa yang berani jawab? Kalau saya pakai definisi kalau fiksi itu mengaktifkan imajinasi, kitab suci itu adalah fiksi, karena belum selesai, belum tiba itu. Babad Tanah Jawi itu fiksi. Anda sebut apa saja itu.

Jadi ada fungsi dari fiksi untuk mengaktifkan imajinasi, menuntun kita untuk berpikir lebih imajinatif, sekarang dia dibunuh kata itu tuh, dibunuh oleh politisi, bayangin.

Anda percaya pada fiksi dan anda dituntun oleh kepercayaan itu, bisa tiba, nggak bisa tiba, gimana caranya? Itu fungsi kitab suci. Anda percaya kitab suci, kenapa anda abaikan sifat fiksional dari kitab suci? Kan itu bukan faktual, belum terjadi, dan ada dituntun oleh dalil-dalil dalam kitab suci, bukan sekedar prediksi tuh.

Saya mau terangkan itu supaya kita selalu punya semacam stok argumentasi sebelum disesatkan oleh pembullyan politik.

Dari sekarang kita musti pastikan bahwa fiksi itu baik, yang buruk itu fiktif, bisa bedain nggak tuh? Diada-adain, diakal-akalin. Kalau saya bilang kitab suci itu fiktif, oh besok saya dipenjara tuh, tapi kalau saya bilang itu fiksi, saya punya argumen. Karena saya berharap terhadap eskatologi dari kitab suci.

Saya tahu akibatnya karena itu saya terangkan supaya nggak dicari-cari jadi delik, saya ngerti dari awal problem itu, kalau saya tanya sekarang kitab suci itu fiksi atau fakta anda mau jawab apa? Jadi kesalahan kita, kita memakai kata fiksi itu untuk dibully, sehingga seolah-olah fiksi itu buruk.

Kenapa kata fiksi itu kemudian anda takut untuk diucapkan terhadap kitab suci? Karena selama itu kata fiksi itu dibebani oleh kebohongan, seolah-olah fiksi itu bohong. Tadi saya katakan bohong itu fiktif, dalam bahasa Indonesia kita bilang fiktif, artinya itu apa fiktif? Bohong. Tapi fiksi energi untuk tiba ke telos yang di depan itu kita ingin tiba di telos ujung dari kitab suci itu adalah harapan, janji, dan itu sifatnya fiksi. Baik atau buruk? Baik.

Jadi saya jelaskan itu supaya kita berhenti dengan debat fiksi atau fakta, kalau mau debat itu faktual atau fiktif, bukan fiksi atau fakta.

Selama ini Twitter itu media sosial itu kita dibikin dungu oleh mereka yang tak paham tentang makna dari kata fiksi, fiction itu. Mahabharata itu fiksi bukan fiktif, orang akan marah.

Jadi bagi saya fiksi itu kreatif, sama seperti orang beragama, kreatif, dia menunggu eskatonnya, dia menunggu telosnya itu. Anda ucapkan doa, sebetulnya anda masuk dalam energi fiksional, karena anda pupuk harapan bahwa dengan untaian doa itu anda akan tiba di tempat yang indah, begitu fiksi bekerja.

Lalu bisakah itu disebut sebagai keyakinan? Bisa. Di dalam agama, fiksi itu adalah keyakinan, di dalam literatur, fiksi adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi. Kimianya sama, orang berdoa dan baca novel kimianya sama, di dalam tubuh sama, jenis hormon yang diproduksi sama, itu soalnya.  [lo/jpnn/nn]
Loading...
loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.