Header Ads

Puisi 'Tapi Bukan Kami Punya' Gatot Nurmantyo Sentil Pemerintah


[lndonesia.org] JAKARTA - Masih ingat puisi 'Tapi Bukan Kami Punya' Gatot Nurmantyo? Pengamat militer Muradi menilai Puisi yang pernah dibacakan oleh mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo itu sangat tidak etis karena termasuk mengkritik pemerintahan Jokowi-JK.

"Pertama, secara etika politik, ya, secara etika politik, Panglima nggak etis, dia bagian dari pemerintahan. Kedua, kemudian dia harusnya membangun konstruksi pemerintahan yang lebih koordinatif," kata Muradi, dikutip dari detikcom.

Apabila ada yang ingin disampaikan, menurutnya, Panglima TNI seharusnya memberitahukan hal itu kepada Presiden Joko Widodo secara langsung, bukan justru 'mengumbarnya' lewat puisi. Bila ada masalah, Panglima TNI juga sebaiknya tidak mengkritik secara terbuka.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo disorot karena membaca puisi bernada kritik berjudul 'Tapi Bukan Kami Punya' di Rapimnas Golkar, 21 Mei tahun lalu.

Gatot kembali membaca puisi itu di acara Workshop Peneguhan Pancasila Bagi ASN yang digelar Kementerian Agama. Sebelum membaca puisi, Gatot bicara soal kondisi kehidupan beragama di Indonesia.

Gatot mengatakan Indonesia saat ini tengah dihadapkan pada berbagai isu keagamaan yang belakangan membuat resah dan mendorong perpecahan. Gatot menyatakan Pancasila adalah jalan keluar permasalahan itu.

"Cara beragama di Indonesia itu sudah diatur dalam Pancasila, yaitu berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa," kata Gatot di Hotel Novotel, Jalan Gunung Sahari, Jakarta Utara, Rabu (31/5/2017).

Gatot menyebut terjadinya konflik di masyarakat adalah akibat dari budaya demokrasi yang dijalankan secara tidak benar. Oleh karena itu, ia mengimbau agar semua pihak bisa menahan diri dan menjalan demokrasi dengan sebaik-baiknya.

"Yang mulai salah itu cara berdemokrasi, ini mulai salah, saya berani ngomong begini di depan DPR dan MPR, karena memang salah kok. Contohnya di sila ke-4 itu menyebut kerakyatan yang dipimpin oleh pemusyawaratan, namun sekarang nyatanya hanya lakukan voting, selesai. Bukan seperti itu," tegasnya.

Menutup pernyataannya, Gatot kembali membaca puisi karangan Denny JA 'Tapi Bukan Kami Punya'.

"Sungguh Jaka tak mengerti, mengapa ia dipanggil ke sini. Dilihatnya Garuda Pancasila, tertempel di dinding dengan gagah," ucap Gatot membacakan puisi tersebut.

Berikut isi puisi secara lengkap:

Tapi Bukan Punya Kami (Denny JA)


Sungguh Jaka tak mengerti mengapa ia dipanggil ke sini

Dilihatnya Garuda Pancasila, tertempel di dinding dengang gagah.

Dari mata burung Garuda, ia melihat dirinya
Dari dadah burung Garuda, ia melihat desa
Dari kaki burung Garuda, ia melihat kota
Dari kepala burung Garuda, ia melihat Indonesia

Lihatlah hidup di desa, sangat subur tanahnya
Sangat luas sawahnya, tapi buka kami punya

Lihat padi menguning, menghiasi bumi sekeliling
Desa yang kaya raya, tapi bukan kami punya

Lihatlah hidup di kota, pasa swalayan tertata
Ramai pasarnya, tapi bukan kami punya

Lihatlah anekah barang, dijualbelikan orang
Ooh makmurnya, tapi bukan kami punya

Jaka terus terpanah, entah mengapa, meneteskan air mata, air mata itu ia punya 



Loading...
loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.