Header Ads

Duh, Jenderal Gatot, Jadi Capres Berat, Cawapres Juga Sulit


[lndonesia.org] JAKARTA - Peluang Jenderal TNI Gatot Nurmantyo untuk masuk arena Pilpres 2019 makin sulit. Bahkan, untuk sekelas cawapres pun, baik kubu Prabowo maupun kubu Jokowi belum mau memberi lampu hijau.

Partai Gerindra memastikan sudah tutup pintu bagi Gatot maju sebagai capres. Sementara kalau mau menjadi cawapres Prabowo, kini giliran PKS yang keberatan dengan nama Gatot.

Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera mengaku keberatan bila Prabowo menarik Gatot sebagai cawapresnya. Alasannya, baik Prabowo maupun Gatot sama-sama berlatar belakang militer.

"Posisi keduanya berlatar be­lakang militer, jadi tidak ideal," kata Mardani Ali Sera di Jakarta, kemarin.

Mardani mengatakan, PKS tidak melarang bila selama ini ada komunikasi politik antara Gerindra dengan Gatot. Namun untuk urusan cawapres, lanjut dia, PKS harus dilibatkan.

Apalagi saat ini, sudah ada 9 na­ma yang diusung PKS untuk disandingkan dengan Prabowo. "Tidak mudah dapat tiket itu. Karena itu PKS menegaskan semua melalui musyawarah dan tidak sepihak," tegas Mardani Ali Sera.

Sebelumnya, Partai Gerindra mengungkapkan bahwa per­temuan antara Prabowo dan Gatot pernah dilakukan sebelum tiket menuju Pilpres sebagai capres ditutup. Wakil Ketua Umum Gerindra Andre Rosiade mengung­kapkan, hubungan antara kedua belah pihak baik-baik saja.

"Pak Prabowo dan Pak Gatot itu sahabat. Hubungan keduanya sangat bagus. Bahkan, Pak Gatot sudah datang ke Prabowo untuk menyampaikan keinginan be­liau maju di Pilpres 2019," kata Andre menjelaskan.

Ketua DPP Partai Gerindra Habiburokhman menyarankan Gatot menunda dulu keinginan­nya maju sebagai capres pada 2019 ini. Menurutnya, Gatot harus masuk ke partai terlebih dahulu, baru kemudian nyapres di pemilu setelah 2019.

"Masuk ke parpol dulu. Masuk, terus besarkan. Jadi tahun 2024 Pak Gatot bisa nyalon presiden. Kan berpolitik itu harus ber­proses, tidak ujug-ujug," ujar Habiburokhman.

Meskipun belum resmi, PKS dan Gerindra memastikan bakal kembali berkoalisi di Pilpres 2019 untuk mengusung Prabowo sebagai calon presiden.

"Ya, dengan PKS kita sudah firm (koalisi), tapi kita berharap lebih banyak lagi dukungan dari partai lain supaya lebih kuat untuk menghadapi Pilpres dan Pileg," kata Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon.

Walau sudah memastikan Gerindra akan berkoalisi denganPKS, Fadli tak lantas bicara sosok cawapres. Menurut dia posisi cawapres masih akan dibahas nanti­nya dengan partai-partai koalisi.

"Pendamping nanti akan dibi­carakan dengan partai koalisi. Ya tentu orang yang disepakati bersama dan mempunyai elek­tabilitas yang tinggi dan bisa memenangkan pertarungan di Pilpres 2019," tuturnya.

Bukan hanya Gerindra dan PKS, sebelumnya dari kubu koalisi pendukung Jokowi juga menutup peluang Gatot untuk masuk arena pilpres.

'Partai Golkar belum mem­bahas sama sekali soal figur cawapres. Jadi soal nama Pak GN (Gatot Nurmantyo-red) tidak dalam pembicaraan cawapres Partai Golkar," ungkap Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily.

Selain Golkar, partai koalisi lainnya seperti PPP, Hanura dan PKB juga memberikan sinyal penolakan untuk Gatot. Maklum dari masing-masing parpol tersebut sudah memiliki jagoan masing-masing untuk disand­ingkan dengan Jokowi.

Misalnya PKB yang sudah jualan ketua umumnya, Muhaimin Iskandar. Sementara PPP mengajukan bosnya, Romahurmuziy. Begitupun Hanura mengusung Menko Polhukam Wiranto untuk bersanding den­gan Jokowi.

Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya pesimis bila Gatot akan muncul seba­gai penantang baru di Pilpres 2019. Menurutnya, ada dua pilihan apabila Gatot hendak maju berlaga dalam pilpres. Pertama, diusung poros Prabowo Subianto. Kedua, merapat ke poros ketiga yang rencananya diinisiasi Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, dan Partai Kebangkitan Bangsa. [lo/rmol]

Loading...
loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.