Header Ads

Tak Mampu Bayar Utang, Pelabuhan hingga Bandara Diambil Alih China


[lndonesia.org] Jakarta - Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings menyatakan negara Venezuela gagal membayar utangnya, yang berakibat pada default. S&P mengatakan, tenggang waktu 30 hari untuk pembayaran utang sudah berakhir pada Oktober.

Dilansir dari Okezone, Risiko gagal bayar pun memicu serangkaian peristiwa berbahaya yang dapat memperburuk kekurangan pangan dan medis Venezuela. Pasalnya, krisis di Venezuela telah menjadi krisis kemanusiaan, karena utangnya yang menggunung.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (Indef) Bhima Yudhistira pada 2016, Sri Lanka juga terkena imbas dari utang yang melilit negara yang berada di sebelah utara Samudera Hindia ini.

Bahkan, Sri Lanka harus terpaksa kehilangan aset berharganya, seperti pelabuhan dan bandara, di mana diambil alih oleh China.

“Jangan kan Venezuela, Sri Lanka juga terkena dampaknya. Pelabuhan dan bandara miliknya pindah tangan ke China pada tahun 2016 kemarin,” ucap Bhima kepada Okezone.

Bhima mengkhawatirkan jika Indonesia terus mengoleksi utang, dan tidak bisa melunasinya. Bukan tidak mungkin salah satu aset yang vital, seperti jalan tol akan terpaksa dilepas. Selain itu, karena faktor pembangunan yang kurang sesuai.

“Konsekuensinya untuk masyarakat dan pegolahan aset, kalau utang belum lunas bisa saja jalan tol akan dilepas. Lalu karena faktor pembangunannya juga yang kurang sesuai,” ungkapnya. [lo/okz]

loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.